Pesan Sunan Kalijaga

Dimuat Jan 12th, 2013 dalam Kategori Artikel Online, Breaking news, Tips Sehat. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

sunan kalijaga

sunan kalijaga

Artikel Online (Soloraya Online) – Raden Ajeng Kartini galau saat dia menghafal dan membaca surat Al-Fatihah namun tidak mengetahui maknanya. Kegelisahan itu diungkapkannya kepada Al-Alamah Mbah Sholeh Darat, seorang kiai terkenal Semarang kala itu. Mbah Sholeh Darat adalah guru dari Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan Muhammad Darwis (pendiri Muhammadiyah yang kemudian dikenal dengan Kiai Ahmad Dahlan). Di sanalah, kedua tokoh besar ini pertama kali berjumpa dalam majelis ilmu.

Kegalauan Kartini terobati saat Mbah Sholeh Darat memberikannya hadiah terjemahan Al-Qur’an berbasa Jawa saat pernikahannya. Ya, Kartini memang beruntung, terjemahan Al-Qur’an kemewahan luar biasa hari itu. Memiliki Al-Qur’an saja, sebuah kemewahan, terlebih kitab kuning untuk mengaji ilmu fiqh.

Bayangkan, hari itu belum ada mesin cetak. Semua harus ditulis tangan. Bukan hanya itu, Belanda memang tidak melarang pengajaran Islam di pesantren dan masjid-masjid, namun Belanda melarang penerjemahan Al-Qur’an dan lainnya. Belanda takut, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas. Lalu, bagaimana dakwah jauh sebelum masa Kartini, di zaman para wali?

Zaman wali jangan membayangkan setiap rumah memiliki mushaf Al-Qur’an seperti rumah kita hari ini. Sekolah formal seperti sekarang, mungkin belum ada. Sekolah masih menjadi milik kelas tertentu dalam masyarakat. Jangankan huruf Arab, huruf Jawa dan latin pun masyarakat tidak paham. Maka, kita harus maklum jika kemudian Islam lebih banyak disebarkan melalui jalur kebudayaan yang mengedepankan metode bertutur, bukan tulisan.

Islam dikenalkan melalui Lir-Ilir, Cublak-Cublak Suweng, Macapat, Laras Slendro dan Pelog, hingga Wayang Kulit. Sunan Kalijaga dengan berani meng-Islamkan kisah Mahabarata. Rupanya, pesan dalam bentuk lisan ala Sunan Kalijogo ini ampuh. Buktinya, jutaan rakyat Jawa tiba-tiba ber-Islam. Pesan dalam tembang-tembang inilah yang menjadi panduan hidup keagamaan Islam di Jawa kala itu.

Mari, kita kupas salah satu kejeniusan Sunan Kalijogo yang masih relevan bagi kehidupan umat Islam di zaman modern ini. Sunan Kalijogo menambahkan pakem dalam serial pewayangan bahwa Werkudara (Bima) memiliki 3 (tiga) anak yaitu :

  1. Gatotkaca. Dia adalah seorang ahli antariksa dan problematikanya

  2. Ontorejo. Tokoh geologi/vulcanologi, pertambangan pertanian dan semua urusan kandungan bumi.

  3. Ontoseno. Praktisi perlautan dan perikanan.

Jadi, kita ditantang oleh Sunan Kalijogo agar umat menguasai ilmu pengetahuan baik laut, bumi/tanah, dan air. Nah, kisah-kisah wayang jangan diterjemahkan dalam unsur mistisnya, namun pesan ajarannya yang abadi seperti sumber ajaran Wali Songo itu sendiri, yaitu Al-Qur’an. (Arif Amani ,  red)

 

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo