Bubur Samin menu khas buka puasa Masjid Darussalam

Dimuat Jul 28th, 2012 dalam Kategori Breaking news, Kuliner, Wisata. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

bubur samin

bubur samin

Solo (Soloraya Online) – Menu buka puasa memang bermacam – macam sesuai tradisi masing masing daerah . Sebuah masjid di kampung Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, Jawa Tengah, mempunyai kuliner unik dan khas selama bulan suci Ramadhan , masjid tersebut bernama Masjid Darussalam, selalu memasak dan membagikan bubur samin atau bubur banjar kepada warga. Disebut bubur samin, karena bubur tersebut menggunakan minyak samin untuk penyedap. Bubur tersebut juga dikenal dengan nama bubur banjar, karena menu khas itu konon dibawa ke Solo oleh para saudagar dari Banjar, Kalimantan Selatan, hampir 70 tahun seabad silam.

 Ini merupakan kekayaan Masjid yang khas ada di Indonesia di setiap daerah selalu memiliki menu khas untuk berbuka puasa. Khas, karena menu-menu tersebut biasanya memang hanya dibuat khusus pada bulan suci Ramadhan.

 Menurut Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi Muchdlor, tradisi bubur samin di masjid sudah dilakukan turun temurun, mulanya puluhan tahun lalu banyak masyarakat dari Kota Banjar yang merantau ke Solo untuk berdagang batu permata  Martapura.

 Mereka menjadikan Masjid Darussalam  sebagai tempat berkumpul, hingga akhirnya mereka menetap di perkampungan sekitar masjid. Satu hal benar bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di sekitar masjid Darussalam saat ini memang merupakan keturunan orang-orang Banjar.

 “Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata  Rosyidi Muchdlor. Sekilas, bubur samin memang seperti bubur ayam pada umumnya.

 Yang  yang membedakannya adalah bumbu dan isi bubur yang terdiri dari potongan daging sapi, aneka rempah-rempah serta sayuran seperti wortel dan daun bawang serta susu.Selain beras, komposisi bubur khas ramadhan ini antara lain berupa santan, aneka sayur dan rempah-rempah, susu serta daging sapi. Tak heran jika bubur ini sangat bergizi.

 Aroma masakan khas Banjar ini semakin kental dengan campuran rempah-rempah serta minyak kapulaga Arab atau minyak samin yang menjadikan bubur berwarna kekuning-kuningan. Rosyidi menuturkan tradisi membuat bubur samin tersebut muncul jauh sebelum berdirinya masjid. Yang jelas, lanjut Rosyidi, Masjid Darussalam   didirikan oleh para perantau dari Banjar, Kalimantan Selatan, sekitar tahun 1950.

 Namun kondisi fisik masjid belum semegah sekarang. Bisa jadi, sebagai sesama perantau, rasa solidaritas orang-orang Banjar tersebut terjalin dengan erat. Hingga akhirnya setiap bulan Ramadhan, mereka membuat menu berbuka seperti layaknya di tempat asal mereka. Tradisi memasak dan membagikan bubur samin ini kemudian dilakukan secara turun temurun hingga sekarang.

 Begitulah. Selepas adzan Ashar, jelang berbuka puasa orang-orang pun berdatangan membawa piring dan rantang untuk membawa bubur pulang.tetapi ada yang tetap tinggal untuk menikmati lezatnya bubur samin di masjid * (Aditya)

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo