Sadranan tradisi yang nyaris terkikis

Dimuat Jul 7th, 2012 dalam Kategori Breaking news, Liputan Utama, Panggung. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

tradisi sadranan

tradisi sadranan

Boyolali  (Soloraya Online) -Tradisi sadranan atau membersihkan tempat makam leluhur setiap bulan “Ruwah” atau “Sya`ban” dalam kalender Hijriyah adalah sedikit dari budaya Jawa yang masih lestari.

Berbeda dengan tradisi sadranan ditempat lain, di Kecamatan Cepogo mempunyai tradisi yang sedikit unik, tradisi yang sudah mengakar turun temurun ini digunakan warga untuk saling bersilaturahmi.

Tidak hanya orang muda yang mendatangi orang tua namun begitu juga sebaliknya. Bahkan tidak sedikit majikan yang mendatangi anak buahnya, hal itu sudah menjadi tradisi saat sadranan. Masyarakat yang saling berkunjung, disana akan terhidang berbagai macam makanan mulai dari makanan ringan hingga berat, mereka diharuskan makan, banyaknya tamu yang berkunjung sebagai simbol banyaknya rejeki bagi si tuan rumah.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Panut, Ritual Nyadran merupakan upacara penghormatan kepada para leluhur, ritual itu dilakukan dibulan Ruwah, tepatnya dilakukan sebelum memasuki bulan puasa.

“Seusai Nyadran, sehari sebelum memasuki bulan puasa biasanya digelar ritual padusan,” katanya.

 Sebelum saling mengunjungi, pagi harinya sebagian besar warga setempat menggelar kegiatan bersih makam. “Baik tua maupun muda, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil,”katanya.

Uniknya, sebelum dilakukan pembacaan ayat suci, sebagian warga yang lain berdatangan dengan membawa berbagai masakan. Masakan itu pun mereka santap tak lama setelah selesai dibacakan doa.   “Para sanak saudara dari luar kota juga berdatangan,”imbuhnya.

Untuk itu acara temu kangen itu pun dilanjutkan dari rumah-ke rumah,

“kami saling mengunjungi, dan siapapun yang lewat diharuskan untuk singgah, karena sudah jadi tradisi banyak tamu artinya banyak rejeki,”katanya.  Menurut KH M Suparno warga Desa Cepogo, Cepogo, awalnya makanan itu sebenarnya untuk menjamu kerabat yang datang dari jauh saat “Nyadran”. Namun, akhirnya budaya itu makin berkembang dengan kegiatan silaturahmi antarwarga.

“Sekaligus untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan kekompakan antarwarga,” katanya. Jumat (6/7/2012) di lokasi makam tunggul jati Ds Sukabumi, Cepogo.

Suasana desa seperti suasana lebaran. Pintu setiap rumah terbuka dan di dalamnya tersedia berbagai makanan lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya.

“Bagi warga, merupakan kehormatan besar apabila tamu yang mau datang jumlahnya banyak,” katanya. Tak heran jika setiap tahun digelarnya ritual sadranan, dijalanan Cepogo akan dipadati kendaraan bermotor maupun pengguna kendaraan umum dari luar kota, ritual sadranan kini menjadi salah satu obyek wisata. (yulianto)

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo