Candi Patirtaan Kali Kunti Sendang Pitu, nyaris punah

Dimuat Jan 28th, 2012 dalam Kategori Breaking news, Liputan Utama, Ragam Peristiwa. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

situs cabean kunti

situs cabean kunti

Boyolali (Soloraya Online) – Misterius dan perawan sebutan yang tepat bagi Sendang Pitu atau Sumur Pitu, yang berada di Dukuh Cabean Kunti, Desa Cabean Kunti Kecamatan Cepogo. Jumat (27/1/2012). Situs Sumur Pitu seakan tak memiliki cerita masa lalu. Di Pemkab Boyolali juga tidak diperoleh data konkrit mengenai jejak masa lalu dari  situs yang tersebar di kiri kanan jalan dukuh Cabean Kunti.  “Bak mutiara terpendam yang akan sangat berguna,” kata Camat Cepogo Siti Askariyah.  Askariyah juga tak bisa banyak bercerita mengenai situs tersebut. Dia hanya mengatakan, jauh sebelum Sinuhun Paku Buwana X Raja  Keraton Kasunanan Surakarta memerintah. Situs Sumur Pitu telah ada.

“Tetapi kami meyakini, situs itu telah ada sebelum Kerajaan Mataram Islam berdiri. Karena kalau dilihat dari bangunan yang masih tersisa,   sangat kental berbau kepercayaan animisme dan dinamisme,” katanya. Kendati keberadaan situs dalam kondisi merana alias tak terawat. Ternyata tak menyurutkan niat pengunjung. Hanya saja, hingga saat ini  pengunjung yang datang cenderung untuk kepentingan ritual. Tidak sedikit kalangan percaya tebaran tujuh mata air tersebut pada hari  tertentu dapat mempermudah dikabulkannya harapan kepada Yang Maha Kuasa. “Padahal, akan lebih menarik kalau untuk study wisata,”kata Askariyah. Untuk itu pihaknya telah mengusulkan kepada pemkab setempat, agar kawasan itu menjadi objek pariwisata. Apalagi, wilayah Cepogo  merupakan jalur wisata Solo-Selo-Borobudur (SSB), sehingga keberadaan objek-objek itu diharapkan bisa menopang jalur wisata. Meski  kenyataannya hingga sekarang belum terealisir.
“Harus diakui memang, kondisi situs itu terkesan tak terawat dengan baik. Namun, untuk data lengkapnya saat ini ditangani Balai Pelestarian  dan Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah,” katanya. Sementara, Nur Arifin petugas pembinaan teknis pemeliharaan benda cagar budaya BP3 Jawa Tengah, Sumur Pitu sebenarnya lebih dikenal  dengan nama Candi petirtaan kali kunti sendang pitu. Sebutan sendang pitu karena warga hanya menemukan tujuh sumber mata air.
”Sebenarnya ada sembilan sumber mata air atau sendang di sana itu,” katanya saat ditemui dilokasi situs cabean kunti. Sendang pitu, menurutnya merupakan peninggalam zaman mataram hindu atau zaman klasik pada masa peralihan abad 6 dan 7 Masehi.  Komplek candi petirtaan kali kunti sendang pitu ini, masih satu rangkaian dengan Candi Lawang di Desa Sumbung, dan Candi Sari di Desa
Jombong, Cepogo. ketiganya, lanjut Nur Arifin, dibangun pada masa pemerintahan Ratu Dyah Wawa wangsa Syailendra. “Saat ini masih dalam taraf pemeliharaan. Belum pada tahap pemanfaatan. Karena BP3 sampai saat ini masih berusaha mengumpulkan  batubatu asli, yang nantinya bisa disusun lagi menjadi satu bangunan utuh,” katanya. Hingga sejauh ini, menurutnya, tidak ada kendala yang berat selain banyaknya lumut yang menggerogoti batuan kuno tersebut. Para  pengunjung yang datang untuk kepentingan ritual, menurutnya, membuat lokasi tersebut semakin terawat. Sedangkan, ketujuh sendang itu,  papar Arifin, antara lain  Sendang Jangkung, Pertapan Sidotopo, Palereban, Kaprawiran, Panguripan, Keputren dan sendang Semboja.  “Dua lagi baru ditemukan sekitar tahun 2004 lalu yakni sendang Balong dan Sendang kedung mayit, 90 persen masih terpendam di dalam tanah,” katanya.
Beberapa warga setempat mengatakan, sudah sejak lama situs Sumur Pitu tidak terawat dengan baik. Banyak bebatuan yang rusak. Bahkan  tak sedikit yang hilang entah kemana.  “Dulu semua masih lengkap, tetapi sekarang banyak yang hilang,” kata Sunoto (51) warga setempat.  Sejumlah warga yang lain mengaku juga tidak mengetahui sejarah keberadaan sumur ini. Namun yang jelas, di sumur yang airnya tidak  pernah kering itu, kini masih menjadi salah satu tujuan pengunjung dari daerah lain untuk ritual.
“Salah satu sendang di bawah pohon besar, tampak sisa pembakaran kemenyan dan bunga setaman yang mengering, air sendang itu kalau  untuk mandi dan diminum bisa membuat orang awet muda. Kalau wanita bisa seperti perawan,” kata Triyono warga setempat. (yulianto)

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo