Keluarga Prapto Gino 26 tahun hidup di hutan

Dimuat Jan 26th, 2012 dalam Kategori Breaking news, Kisah-Kiprah, Liputan Utama, Sosok. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

keluarga prapto giono

keluarga prapto giono

Boyolali (Soloraya Online) – Dikaki gunung Merbabu, ada sebuah keluarga yang menetap di dalam hutan. Mereka tinggal tak jauh dari dusun tertinggi di lerang Merbabu tepatnya di Dukuh Baturejo, Desa Sampetan, Kecamatan Ampel.   Kendati mengaku sudah 26 tahun jauh dari lingkungan pedesaan, keluarga Prapto Gino mengaku cukup kerasan dan tidak ada keinginan untuk berpindah.

“Saya lebih memilih menempati rumah yang jauh dengan pemukiman warga lain bersama dua istri dan ketiga anak saya,” kata Prapto.  Dia menuturkan, sebelumnya sempat tinggal di wilayah Baturejo. Hanya saja, rumah yang dia tempati terlalu sempit karena harus berbagi dengan saudara lain.
“Kebetulan saya punya lahan di atas perkampungan maka kami pindah,” tutur Prapto saat ditemui di rumahnya, Rabu (25/1/2012).
Prapto kemudian memilih mendirikan rumah yang jarak terdekat dengan pemukiman sekitar 1 km. Untuk sampai ke rumah berdinding bambu dan berlantai tanah itu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sebab, akses menuju ke kediaman lelaki 60 tahun itu berupa jalan setapak berbatu.  Sehari-hari, bapak tiga anak itu menggantungkan hidupnya dengan menjadi buruh tani. Selain menggarap tanahnya yang hanya beberapa petak, dia dan kedua isterinya kerapkali menjadi buruh di ladang orang lain. Penghasilannya pun tak menentu, kadang dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp10.000.
“Jumlah itu kalau dihitung juga kurang. Anak-anak saya masih sekolah belum lagi untuk makan sehari-hari. Kalau ada uang untuk beli beras tetapi kalau tidak ya makan jagung,” katanya.  Selama 26 tahun hidup menyendiri di hutan sudah menjadi hal yang biasa baginya. Baik itu fenomena alam seperti angin kencang maupun suara-suara binatang liar yang berasal dari hutan.
“Hiburan kami hanya suara jengkrik, tidak ada televisi maupun radio,” katanya. Di rumah yang berdinding bambu seluas 8×12 meter itu, hanya terdapat sebuah lampu listrik. Menurut, Prapto, baru sekitar tiga tahun ini menumpang saluran listrik milik warga terdekat, sebelumnya keluarga itu memanfaatkan lampu minyak.
“Panjang kebelnya lebih dari seribu meter,” katanya. Ketiga anaknya pun harus pagi-pagi sekali berangkat ke sekolah. Sekitar pukul 05.15 WIB mereka sudah pergi ke sekolah yang jaraknya kurang lebih 5 km dengan berjalan kaki. Mereka baru pulang ke rumah sekitar pukul 16.00 WIB setiap harinya.
“Saya tidak takut tinggal di sini karena sudah terbiasa. Hidup kami memang terbatas dan mengandalkan hasil kebun sendiri untuk makan sehari-hari. Jika dirasa memang kurang namun, kami bersyukur,” kata istri mudanya, Kartini.   kendati ruang tamunya menyatu dengan kandang sapi gaduhan, Kartini dan isteri pertamanya, Jiyem, mengaku tidak memiliki keinginan untuk berpindah ke perkampungan warga. Namun demikian, mereka berharap ketiga anaknya tidak mengalami nasib seperti dirinya. “Saya hanya ingin anak-anak menjadi orang besar,” pungkasnya. (yulianto)

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo