LPLAG gelar serasehan mewaspadai radikalisme di Indonesia

Dimuat Oct 16th, 2011 dalam Kategori Breaking news, Liputan Utama, Ragam Peristiwa. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Anda bisa meninggalkan tanggapan atau trackback untuk berita ini

 

serasehan LPLAG

serasehan LPLAG

Solo (Soloraya Online) – Peristiwa bom bunuh diri di GBIS Kepunton tanggal 25 September 2011, meski tidak mengakibatkan korban jiwa selain pengebom itu sendiri, cukup mengguncang ketenangan Kota Solo yang sudah kondusif. Berlatar dari peristiwa itulah, LPLAG (Lembaga Perdamaian Lintas Agama dan Golongan) mengadakan Sarasehan bertema “Mewaspadai Radikalisme di Indonesia”. Bertempat di Gedung LPLAG, Jl. KH. Muzakir No. 89 Semanggi, Solo.

Dalam sarasehan ini, bertindak sebagai pembicara KP Sayid Yahya Asagaf ( Ketua Lembaga Sangga Buana Surakarta), KH. DR. Mifta Faqih (IAIN Solo), dengan Moderator Ir. H. Almunawar, M.Si.

Peserta yang menghadiri sarasehan ini terdiri dari perwakilan beberapa lembaga, seperti Kepala Kesbanglinmas Surakarta, Depag Surakarta, PB NU Surakarta, Kevikepan Surakarta, Walubi, Parisade Hindu, MAKIN, FKUB, PMS, Lembaga Sangga Buana Surakarta, GMKI, Spekham, YAPHI, HMI, Pemuda Ansor, Fatayat NU, PP Almuayat Windan, Lekas Klasis GKJ Surakarta, FKLK, MDS Mennonite Diakonia Service Sinode GMKI, Center Development Culture, INTI, FKWJ, MCC dan PMII.

Sesi pertama dimulai oleh KP. Sayid Yahya Asegaf yang mengemukakan fakta yang baru sedikit diketahui masyarakat, bahwa sebenarnya radikalisme yang melakukan banyak aksi teror di Indonesia itu dibiayai oleh beberapa negara barat dan satu negara di Timur Tengah yang karena memiliki kepentingan sangat senang melihat Indonesia kacau. Mereka mengerti benar bahwa kekacauan yang paling mudah adalah melalui kedok agama.

Agama Islam adalah agama tengah (tidak kanan ataupun kiri), ajaran Agama Islam tidak kapitalis dan juga tidak sosialis. “Kami berharap bahwa tokoh-tokoh agama yang lain agar selalu mengingatkan umatnya tidak terprovokasi dan tidak diselundupi hal-hal yang bersifat mengadu domba. Adapun faktor yang memudahkan masuknya faham radikalisme adalah kebodohan dan kemiskinan.”ungkap KP Sayid Yahya Asegaf.

Dicontohkan Yahya Asegaf, bahwa faham-faham mereka sudah masuk jauh kedalam berbagai sektor kehidupan, misalnya dalam hal budaya. Mereka mengharamkan seni wayang yang dinilai musrik karena menggunakan sesaji tanpa mengerti tujuan sebenarnya. Sesaji di dalam pagelaran dimaksudkan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan berkat melalui hasil panen yang melimpah ataupun rejeki yang sudah diterima.

Cara berpakaian masyarakat Indonesia juga sudah banyak berubah, tingkah laku dalam toleransi beragama juga sudah banyak berkurang. “Hal ini menyisakan pertanyaan, sudah begitu mundurkah Rakyat Indonesia ataukah sudah begitu majukah Rakyat Indonesia? Aksi radikalisme yang menciptakan teror memang di beberapa tempat sudah cukup berhasil menakuti-nakuti masyarakat.”ungkapnya.

Yahya Asegaf juga menekankan pentingnya untuk kembali memahami Pancasila dan UUD 45 yang merupakan fondasi negara sebagai hal yang penting untuk mencegah masuknya ideologi radikalisme.

Ada satu kelompok yang berkhayal mengajak untuk menciptakan revolusi. Mereka pada dasarnya ingin berkuasa dan sudah merangkul kaum radikal. Indonesia sudah melewati apa yang sekarang sedang terjadi di Timur Tengah, pada peristiwa reformasi 1998 dan menggunakan sistem demokrasi serta kebebasan pers. Apabila pihak oposisi di Indonesia menginginkan perubahan seperti pemberantasan korupsi yang sungguh-sungguh hendaknya melaksanakan amanat Pancasila dan UUD 45, khususnya Sila ke 5 (Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, sehingga dapat memberantasan kemiskinan dan kebodohan yang mengakibatkan  faham radikalisasi mudah masuk dan berkembang.

Sesi kedua, DR. Miftah Faqih mengemukakan bahwa faktor kebencianlah yang paling berperan dalam merebaknya aksi terorisme.

“Para pemuda (pengantin) yang bersedia melakukan aksi bom bunuh diri diindoktrinasi bahwa mereka akan lebih berarti saat mati daripada saat hidup. Secara tidak langsung, mereka didoktrin untuk membenci/tidak menghargai hidup dan kehidupan, sehingga mudah saja bagi mereka untuk melakukan aksi bom yang menghilangkan nyawa orang lain.”ungkap Miftah.

Kebodohan dan kemiskinan yang merupakan tanggung jawab pemerintah harus ditanggulangi. Pemerintah harus lebih banyak mendukung gerakan-gerakan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.

Meningkatkan dan mengingatkan kembali pemahaman masyarakat tentang dasar negara Pancasila dan UUD 45 untuk memunculkan kembali Nasionalisme dan rasa kecintaan pada tanah air.

Meningkatkan rasa cinta budaya dan sejarah bangsa agar bangsa ini kembali kepada akar yang sesungguhnya yaitu Budaya Indonesia. (Putra Kurniawan)

 

Tinggalkan Komentar

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo