Mahasiswi nyambi purel plus, mau ….. asalkan di hotel mewah

Dimuat Jan 13th, 2011 dalam Kategori Infotainment. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan melalui RSS 2.0. Kementar dan ping ditutup.

aduh sexsynya

Solo (Soloraya Online), Kehidupan malam di Surakarta, seakan tak akan pernah mati. Segala sesuatunya dapat diselesaikan diatas ranjang. Sejumlah jenis pekerjaan bahkan sangat dekat dengan praktik prostitusi tertutup.

Di sebuah room di suatu karaoke keluarga di kawasan jantung kota, malam akhir pekan lalu,  Shinta, Dewi dan Luna  (tiganya nama samaran)  menemani tim. Sejak awal, nyanyi bergantian, layaknya orang sedang menikmati karaoke.

Shinta, wanita 24 tahun dan dua temannya yang seusia itu adalah purel. Sepintas mereka bukan wanita sembarangan. Gaya bicara, tingkah dalam room  sampai berbusana, wanita sawo matang itu seolah menegaskan dirinya adalah wanita yang tak bisa diajak pergi selain berkaraoke. Apalagi malam itu ketiganya  berbusana feminim. Roknya panjang melebihi lutut. Dandan pun tak mencolok.

Shinta, warga Joyosuran ini jauh dari kesan menggoda. Tapi ia suka melepas senyum.  Bersama tamunya, dia lebih memilih  berdendang  layaknya menikmati lagu-lagu yang sedang dinyanyikan. Sesekali ia berdiri, berkali-kali matanya memejam seperti larut dalam lagu.

‘’Saya suka nyanyi. Ini namanya kerja sekalian ngilangin stress,’’ ucapnya pelan lalu tersenyum. ‘’Kalau kesini boleh kontak lagi, tapi jangan macem-macem ya,’’ sambungnya dipenghujung acara karaoke.

Kesan pertama, tiga purel itu tak menggoda, apalagi mengumbar aurat. Namun dijanjian keesokan harinya, tiga wanita itu mulai berani. Cara menggodanya tak sembarangan, hanya lewat lagu.

Malam berikutnya setelah janjian sebelumnya, Shinta mulai memberi tanda kepada tim. Pesan menggodanya hanya lewat lagu. Bagai sedang mengajak, berkali-kali ia mendendang lagu, ‘Aku sedang ingin’.

‘’Aku sedang ingin bercinta karena mungkin ada kamu disini. Ku ingin….,’’ nyanyinya berkali-kali mengikuti teks lagu. Dan malam itu, rupanya wanita tinggi semampai ini sedang ingin bercinta.

Tim pun mencoba menggodanya lewat sms, Shinta sempat berubah. ‘’Maaf, aku bukan cewek gampangan,’’ kilahnya via SMS.  Namun setelah ditelepon dan ngobrol sebentar  dia pun luluh. ‘’Jangan sampai teman-teman ku tahu,’’ pesannya.

Wanita ramah ini pun lalu meminta dijemput di rumah kontrakannya. ‘’Di hotel ini aja, gak usaha yang mahal-mahal, yang penting privasi terjaga,’’ katanya, sembari menyebut salah satu hotel yang boleh dibilang khusus melayani short time.

‘’Banyak teman ku yang gampang diajak check in,’’ ucapnya membuka cerita. Tapi untuk mengajak check in tidak boleh dilakukan secara terbuka. Harus menggoda. Kalau tidak menggoda, ya mereka akan menggoda. Itu pun dengan cara yang santun.

Penggalan syair lagu,  ‘Aku sedang ingin bercinta karena mungkin ada kamu disini. Ku ingin….’ Adalah cara perempuan itu menggoda. Lagu itu adalah isyarat. ‘’Kalau ku suka orangnya, ya ku nyanyi lagu itu. Itu tandanya,’’ katanya sembari tertawa.

Tapi purel lainnya memiliki cara yang berbeda. Ada yang langsung ok ketika diajak sekali, tapi ada yang harus dirayu dulu. Kalau pun harus merayu-rayu terlebih dahulu,  bukan berarti gratisan.

Tarifnya macam-macam. Shinta misalnya, berani diajak kencan dengan ongkos Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Tapi itu pun hanya short time. ‘’Itu gak mahal kok, kan aku bukan cewek panggilan. Tapi kalau aku suka orangnya ya gratis,’’ katanya membela diri.

Umumnya purel yang  yang bisa diajak check in itu memang pekerja di tempat karaoke. Tapi ada juga yang  tak terikat resmi. Mereka baru nongol di tempat karaoke  jika ada janjian dengan tamunya.

Shinta memiliki empat teman mahasiswi yang nyambi purel plus yang tak terikat resmi di tempat karaoke. Jika menemani nyanyi, mereka harus diberi tips lebih dari Rp 250 ribu. Kalau kurang, besok-besok dijamin mereka tak akan mau lantaran menilai tamunya pelit.

‘’Nah mahasiswi yang nyambi purel itu bisa diajak gituan (check in) asalkan di hotel mewah. Jangan hotel buat gituan,’’ katanya sembari menyebut sejumlah hotel short time di kota Solo. Soal ongkos, dia tak bisa memastikan. ‘’Kira-kira diatas Rp 300 ribu lah. Persisnya gak tahu, soalnya gak ngomong-ngomong,’’ terangnya.

Dia sempat memberi nomor telepon seorang mahasiswi yang nyambi purel. Tapi ketika di hubungi, ternyata mahasiswi sebuah  perguruan tinggi swasta itu sedang di Jakarta.

Awalnya mahasiswi itu sempat mempertanyakan tahu nomor ponselnya dari siapa. Setelah diyakinkan bahwa temannya Shinta, barulah dia welcome. ‘’Lain kali aja mas. Ntar kalau balik ke Solo ya,’’ ucapnya.

Ada juga kisah kehidupan mahasiswi yang nyambi purel jadi wanita simpanan. Ia lupa pria itu pejabat atau pengusaha. ‘’Ada yang bilang pejabat, tapi temen ku itu bilang kontraktor,’’ kata dia. Setelah jadi simpanan, mereka meninggalkan pekerjaan sebagai purel. Tapi kalau tak jadi simpanan lagi, pasti akan kembali ke dunia asalnya, purel. (tim/01)

Komentar ditutup

Galeri Foto

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK SEMUA STAF DAN JURNALIS SOLORAYAONLINE.COM DILENGKAPI DENGAN KARTU IDENTITAS DAN DILARANG MENERIMA IMBALAN DALAM BENTUK APAPUN DARI NARASUMBER.SEGERA HUBUNGI HOTLINE REDAKSI SOLORAYA ONLINE : 0271 - 2600064 , 081 329 605 272
Log in
SoloRaya OnlineOm Kicau Solo